Teater di Zaman Tipografis
11 comments so far
I
Duduk menonton televisi memang berbeda dengan membaca novel, cerita pendek, sajak, atau bahkan menyaksikan pementasan teater. Aktivitas membaca senantiasa mengandaikan suatu konsetrasi yang lebih soliter dan personal sementara tindakan menonton televisi lebih mirip dengan upaya untuk memasuki suatu kosmos rekaan dalam keserempakannya. Membaca adalah kegiatan yang lebih literer sedangkan menonton merupakan kegiatan tipografis-visual. Dan dalam tindakan literer (membaca dan menulis) lebih memungkinkan orang untuk menelusuri bagian-bagian teks secara menetap.
Merayakan Paradoks
1 comment so far
Istilah “nasionalisme” hari-hari ini memang lebih mudah diterima sebagai slogan ketimbang makna yang jelas dan nyata dalam hidup berbangsa dan bernegara. Apalagi ketika kepercayaan bahwa negara-bangsa adalah sejenis kesatuan utuh yang terikat oleh kerinduan untuk mempertautkan diri menjadi sebuah komunitas imajiner itu dianggap sudah tamat. Faktanya globalisasi telah mengaburkan batas-batas tradisional dari negara, budaya, komunitas dan sistem sosial. Di zaman global ini telah terjadi arus lalu lintas barang, benda-benda dan produk industri serta teknonogi, arus keluar masuk informasi, pemikiran, ide-ide, ideologi-ideologi dan nilai-nilai yang kian cepat.
Sekali Lagi, Jangan Lupakan Munir
No commentsBarangkali ada benarnya ungkapan kuno yang mengatakan bahwa pahlawan itu tidak pernah dilahirkan melainkan “diciptakan”. Siapa pun maklum bahwa setiap masyarakat, budaya, atau negara-bangsa membutuhkan pahlawan sebagai simbol sekaligus wahana untuk mengukuhkan suatu sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Pengukuhan sejarah tersebut tentu didasari oleh bermacam-macam preferensi dan kesepakatan kolektif yang terbentuk oleh kepentingan yang bermacam-macam pula.
Laut
8 comments so farI
Ketika berjalan menyusur dan terus menyusuri,
kita tahu bintang yang redup. Kemudian mayat-mayat:
kematian ada di mana-mana, pikir kita. Dan lebih redup
dari tenggelamnya matahari. Kadang kita dengar sendiri
suaranya perlahan, bagai hewan di rumah jagal.
Sekongkol
2 comments so farPiala Eropa 2004 lalu telah melahirkan bintang-bintang baru, salah satu yang paling ngetop adalah Wayne Rooney. Dia disebut-sebut sebagai Paul “Gazza” Gascoine baru yang kehebatannya telah menenggelamkan sang pangeran, si superstar, David Beckham yang gagal mengeksekusi dua penalti. Sebagain pengamat mengatakan bahwa euforia publik Inggris terhadap Rooney bukan semata-mata didorong oleh ketakjuban mereka terhadap kejeniusan anak baru gede ini, melainkan lebih karena kerinduan mereka terhadap pahlawan sepakbola yang sebenar-benarnya. Read the rest of this entry »
Citra, Iklan, Perempuan
6 comments so farTak dapat dimungkiri bahwa dewasa ini pasar telah mengalami ekspansi yang sangat signifikan hingga menyentuh aspek-aspek paling privat dari kehidupan manusia. Dari segi formal, hal itu merupakan implikasi langsung dari globalisasi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari peri kehidupan hampir seluruh masyarakat modern. Globalisasi adalah bentuk perluasan pasar dalam arti material, yakni sebagai akibat langsung dari ekspansi budaya industrial yang dapat disentuh, dicerna dan ditelan secara langsung maupun tidak langsung ketika alasan-alasan paling mendasar untuk menolaknya kian kehilangan dasar-dasar logisnya. Read the rest of this entry »
Dua Bali
4 comments so farSekitar tahun 1990-an secara sambil lalu beberapa orang sering bertanya, kenapa karya-karya seniman Bali (yang saat itu sedang dan baru saja selesai belajar di ISI Jogja), cenderung bercorak nonrepresentasional? Secara sambil lalu pula pertanyaan itu biasanya berlanjut, kenapa seni representasional itu dengan serampangan disamakan dengan apa yang disebut sebagai seni lukis bercorak abstrak ekspresionistik? Dan dalam cakupan itu, kenapa dari sekian banyak pelukis Bali, kita tak menemukan perbedaan yang berarti dalam karya-karya mereka? Read the rest of this entry »
The Wounding Blockade
5 comments so farTo stand before Teguh Ostenrik’s sculptures and paintings from his deFACEment collection is to witness a set of figures or forms reassembling into human’s shapes and faces. These are not the realistic human figures, but abstractions of body and face. They are abstractions on account of their reference to representational art, which exploits every possibility within the seen world. Unlike abstract forms, which are inclined to liberate themselves or go beyond shapeless interior forces. Read the rest of this entry »